Rabu, 09 Januari 2013
BUMI
Bumi adalah planet ketiga dari delapan planet dalam Tata Surya. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 miliar tahun. Jarak antara Bumi dengan matahari adalah 149.6 juta kilometer atau 1 AU (Inggris: Astronomical Unit). Kala rotasi bumi adalah 23 jam 56 menit 4 detik. Sedangkan kala revolusinya adalah 365,25 hari. Bumi mempunyai lapisan udara (atmosfer) dan medan magnet yang disebut (magnetosfer) yang melindung permukaan Bumi dari angin surya, sinar ultraviolet dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti Bumi hingga ketinggian sekitar 700 kilometer. Lapisan udara ini dibagi menjadi Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer dan Eksosfer.
Lapisan ozon, setinggi 50 kilometer, berada di lapisan stratosfer dan mesosfer dan melindungi Bumi dari sinar ultraungu. Perbedaan suhu permukaan Bumi adalah antara -70 °C hingga 55 °C bergantung pada iklim setempat. Sehari dibagi menjadi 24 jam dan setahun di Bumi sama dengan 365,2425 hari. Bumi mempunyai massa seberat 59.760 miliar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometer persegi. Berat jenis Bumi (sekitar 5.500 kilogram per meter kubik) digunakan sebagai unit perbandingan berat jenis planet yang lain, dengan berat jenis Bumi dipatok sebagai 1.
Bumi memiliki diameter sepanjang 12.756 kilometer. Gravitasi Bumi diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran gravitasi planet lain, dengan gravitasi Bumi dipatok sebagai 1. Bumi mempunyai 1 satelit alami yaitu Bulan. 70,8% permukaan Bumi diliputi air. Udara Bumi terdiri dari 78% nitrogen, 21% oksigen dan 1% uap
Bumi diperkirakan tersusun atas inti dalam Bumi yang terdiri dari besi nikel beku setebal 1.370 kilometer dengan suhu 4.500 °C, diselimuti pula oleh inti luar yang bersifat cair setebal 2.100 kilometer, lalu diselimuti pula oleh mantel silika setebal 2.800 kilometer membentuk 83% isi Bumi dan akhirnya sekali diselimuti oleh kerak Bumi setebal kurang lebih 85 kilometer.
Kerak Bumi lebih tipis di dasar laut yaitu sekitar 5 kilometer. Kerak Bumi terbagi kepada beberapa bagian dan bergerak melalui pergerakan tektonik lempeng (teori Continental Drift) yang menghasilkan gempa Bumi.
Titik tertinggi di permukaan Bumi adalah gunung Everest setinggi 8.848 meter dan titik terdalam adalah palung Mariana di samudra Pasifik dengan kedalaman 10.924 meter. Danau terdalam adalah Danau Baikal dengan kedalaman 1.637 meter, sedangkan danau terbesar adalah Laut Kaspia dengan luas 394.299 km2.
Bumi adalah sebuah planet kebumian, yang artinya terbuat dari batuan. Hal ini berbeda dibandingkan gas raksasa seperti Jupiter. Planet ini adalah yang terbesar dari empat planet kebumian, baik dalam hal massa maupun ukuran. Dari keempat planet kebumian, Bumi juga memiliki kepadatan tertinggi, gravitasi permukaan terbesar, medan magnet terkuat dan rotasi paling cepat. Bumi juga merupakan satu-satunya planet kebumian yang memiliki lempeng tektonik yang aktif.
Bentuk
Putaran rotasi Bumi pada poros utara-selatan yang berakibat terjadinya siang dan malam
Bentuk planet Bumi sangat mirip dengan bulat pepat (oblate spheroid), sebuah bulatan yang tertekan ceper pada orientasi kutub-kutub yang menyebabkan buncitan pada bagian khatulistiwa. Buncitan ini terjadi karena rotasi Bumi, menyebabkan ukuran diameter katulistiwa 43 km lebih besar dibandingkan diameter dari kutub ke kutub. Diameter rata-rata dari bulatan Bumi adalah 12.742 km, atau kira-kira 40.000 km/π. Karena satuan meter pada awalnya didefinisikan sebagai 1/10.000.000 jarak antara katulistiwa ke kutub utara melalui kota Paris, Perancis.
Topografi lokal sedikit bervariasi dari bentuk bulatan ideal yang mulus, meski pada skala global, variasi ini sangat kecil. Bumi memiliki toleransi sekitar satu dari 584, atau 0,17% dibanding bulatan sempurna (reference spheroid), yang lebih mulus jika dibandingkan dengan toleransi sebuah bola biliar, 0,22%. Lokal deviasi terbesar pada permukaan Bumi adalah Gunung Everest (8.848 m di atas permukaan laut) dan Palung Mariana (10.911 m di bawah permukaan laut). Karena buncitan khatulistiwa, bagian Bumi yang terletak paling jauh dari titik tengah Bumi sebenarnya adalah gunung Chimborazo di Ekuador.
Proses alam endogen/tenaga endogen adalah tenaga Bumi yang berasal dari dalam Bumi. Tenaga alam endogen bersifat membangun permukaan Bumi ini. Tenaga alam eksogen berasal dari luar Bumi dan bersifat merusak. Jadi kedua tenaga itulah yang membuat berbagai macam relief di muka Bumi ini seperti yang kita tahu bahwa permukaan Bumi yang kita huni ini terdiri atas berbagai bentukan seperti gunung, lembah, bukit, danau, sungai, dsb. Adanya bentukan-bentukan tersebut, menyebabkan permukaan Bumi menjadi tidak rata. Bentukan-bentukan tersebut dikenal sebagai relief Bumi.
Massa Bumi kira-kira adalah 5,98×1024 kg. Kandungan utamanya adalah besi (32,1%), oksigen (30,1%), silikon (15,1%), magnesium (13,9%), sulfur (2,9%), nikel (1,8%), kalsium (1,5%), and aluminium (1,4%); dan 1,2% selebihnya terdiri dari berbagai unsur-unsur langka. Karena proses pemisahan massa, bagian inti Bumi dipercaya memiliki kandungan utama besi (88,8%) dan sedikit nikel (5,8%), sulfur (4,5%) dan selebihnya kurang dari 1% unsur langka.[10]
Ahli geokimia F. W. Clarke memperhitungkan bahwa sekitar 47% kerak Bumi terdiri dari oksigen. Batuan-batuan paling umum yang terdapat di kerak Bumi hampir semuanya adalah oksida (oxides); klorin, sulfur dan florin adalah kekecualian dan jumlahnya di dalam batuan biasanya kurang dari 1%. Oksida-oksida utama adalah silika, alumina, oksida besi, kapur, magnesia, potas dan soda. Fungsi utama silika adalah sebagai asam, yang membentuk silikat. Ini adalah sifat dasar dari berbagai mineral batuan beku yang paling umum. Berdasarkan perhitungan dari 1,672 analisis berbagai jenis batuan, Clarke menyimpulkan bahwa 99,22% batuan terdiri dari 11 oksida (lihat tabel kanan). Konstituen lainnya hanya terjadi dalam jumlah yang kecil. [note 3]
Lapisan Bumi
Menurut komposisi (jenis dari materialnya), Bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut:
Kerak Bumi
Mantel Bumi
Inti Bumi
Sedangkan menurut sifat mekanik (sifat dari material)-nya, Bumi dapat dibagi menjadi lapisan-lapisan sebagai berikut:
Litosfir
Astenosfir
Mesosfir
Inti Bumi bagian luar
Inti Bumi bagian luar merupakan salah satu bagian dalam Bumi yang melapisi inti Bumi bagian dalam. Inti Bumi bagian luar mempunyai tebal 2250 km dan kedalaman antara 2900-4980 km. Inti Bumi bagian luar terdiri atas besi dan nikel cair dengan suhu 3900 °C.
Inti Bumi bagian dalam
Inti Bumi bagian dalam merupakan bagian Bumi yang paling dalam atau dapat juga disebut inti Bumi. inti Bumi mempunyai tebal 1200km dan berdiameter 2600km. Inti Bumi terdiri dari besi dan nikel berbentuk padat dengan temperatur dapat mencapai 4800 °C.
sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bumi
Sabtu, 24 Maret 2012
Hari ini tepatnya tanggal 26 Pebruari
2010 atau dalam tanggal hijriahnya 12 Rabiul Awal 1431 H adalah tepat
hari libur untuk menghormati hari kelahirannya Nabi Muhammad SAW di
Indonesia khususnya peringatan ini diberi nama Hari Maulid Nabi Muhammad
SAW. Dalam agama Islam sebenarnya tidak ada peringatan secara khusus
dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kenapa adanya peringatan
ini ? tentunya ada asal muasalnya kenapa maulid nabi itu diperingati.
Berikut adalah beberapa sumber yang didapatkan saya dalam penelusuran
bagaimana asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Adalah sumber pertama yang saya dapat dari http://aflaazki.multiply.com Sedangkan sumber kedua dari temanku http:www.4allmuslim.blogspot.com Bagaimana asal-usulnya ? Simaklah tulisan ini :
Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi
Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat
Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan
diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan
Inggris. Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade.
Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan
menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan
semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat
Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada
satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.
Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi
--orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena
hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau
570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub --katakanlah dia setingkat Gubernur.
Pusat kesultanannya berada di kota
Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir
sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang
umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan
umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh
dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender
Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini
harus dirayakan secara massal.
Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad
yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji
bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa
haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi
kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman
masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja
berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal
dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang
membangkitkan semangat umat Islam.
Salahuddin ditentang oleh para ulama.
Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi
pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri
dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa
perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama,
bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan
bid`ah yang terlarang.
Salah satu kegiatan yang diadakan oleh
Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun
1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi
beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin.
Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut.
Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji.
Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering
dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.
Barzanji bertutur tentang kehidupan
Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja,
pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan
sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa
untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama
pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja'far al-Barzanji bin Husin bin
Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766.
Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan,
Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul 'Iqd Al-Jawahir
(artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan
kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama
penulisnya.
Ternyata peringatan Maulid Nabi yang
diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif.
Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali.
Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583
H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan
Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.
Begitulah
kurang lebih asal-usul peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Peringatan
ini diikuti oleh hampir seluruh negara muslim dunia termasuk Indonesia.
Sampai pada saatnya kita haruslah mengambil suatu hikmah dari peringatan
ini. Jadikanlah peringatan ini sebagai momentum yang baik untuk
berjuang semampu kita dalam menghadapi kerasnnya kehidupan ini. Berjuang
untuk selalu istiqomah dalam menjalankan syariat Islam sebagai bekal
kita dalam menghadapi hari akhir dan hari pembalasan.
Sabtu, 10 Maret 2012
Selasa, 21 Februari 2012
ASAL MULA NAMA PEKALONGAN
Pada Tanggal 1
April kemarin Kota Pekalongan merayakan hari jadinya yang ke-105. Pada
hari itu Kota Pekalongan bertransformasi dari ”sekadar” Kota Batik
menjadi The World’s City of Batik. Sebagai kota yang memiliki banyak
pengrajin batik, nama kota ini tidak sementereng Yogyakarta ataupun
Solo. Pekalongan?
Kota Pekalongan adalah kota yang terletak di utara
Pulau Jawa, berdekatan dengan kota Pemalang, Tegal dan Semarang. Kota
ini memang kota yang tidak terlalu besar sehingga banyak orang sulit
untuk mengetahui dimana tempatnya. Kota Pekalongan berada di propinsi
Jawa Tengah yang beribukotakan Semarang. Sebagai kota yang berada di
Propinsi Jawa Tengah bisa dipastikan penduduknya menggunakan bahasa
Jawa sebagai penghubung komunikasinya sehari-hari. Bahasa Jawa logat
Pekalongan agak sedikit berbeda dengan bahasa Jawa lain seperti Jogja
atau Solo yang cenderung lebih halus.
Pekalongan, sebuah nama yang unik. Bagaimana asal usul
nama kota ini? Nama Pekalongan berasal dari nama Topo Ngalongnya Joko Bau (Bau Rekso) putra
Kyai Cempaluk yang dikenal sebagai pahlawan daerah Pekalongan. Di
kemudian hari ia menjadi pahlawan kerajaan Mataram, yang konon
ceritanya berasal dari Kesesi, Kabupaten Pekalongan. Suatu ketika, ia disuruh oleh
pamannya Ki Cempaluk untuk mengabdi kepada Sultan Agung, raja Mataram.
Joko Bau mendapat tugas untuk memboyong putri Ratansari dari Kalisalak
Batang ke istana, akan tetapi Jaka Bau jatuh cinta pada putri tesebut.
Sebagai hukumannya Jaka Bau diperintah untuk
mengamankan daerah pesisir yang terus diserang oleh bajak laut cina. Ia
kemudian bersemedi di hutan gambiran, setelah itu Joko bau berganti
nama menjadi Bau Rekso dan mendapat perintah dari Sultan Agung untuk
mempersiapkan pasukan dan membuat perahu untuk membentuk armada yang
kemudian melaksanakan serangan terhadap kompeni yang ada di Batavia (
1628 dan 1629). Setelah mengalami kegagalan Bau Rekso memutuskan untuk
kembali dan bertopo ngalong (bergelantung seperti kelelawar) di
hutan gambiran. Di dalam tapanya tersebut tak ada satupun yang bisa
mengganggunya termasuk Raden Nganten Dewi Lanjar (Ratu Segoro Lor) dan
prajurit silumannya. Pada akhirnya, karena kekuatan goibnya yang luar
biasa maka Dewi Lanjar pun bertekuk lutut dan akhirnya Dewi Lanjar
dipersunting Joko Bau.
Satu-satunya yang bisa mengganggu topo ngalongnya Joko
Bau adalah Tan Kwie Djan yang mendapat tugas dari
Mataram, kemudian Tan Kwie Djan dan Joko Bau sowan ke Mataram
untuk menerima tugas lebih lanjut. Dari asal topo ngalong
inilah kemudian timbul nama Pekalongan. Munculnya nama Pekalongan
menurut versi ini seputar abad XVII pada era Sultan Agung dan dalam
sejarah Bau Rekso dinyatakan gugur pada tanggal 21 September 1628 di
Batavia dalam peperangan melawan VOC. Tempat topo ngalongnya
Joko Bau tersebut dipercayai tempatnya berbeda-beda antara lain di
Kesesi, Wiradesa, Ulujami, Comal, Alun-alun Pekalongan dan Slamaran.
Berbagai Asal Kata “Pekalongan”
Nama Pekalongan semula dari daerah Wonocolo, Kota
Surabaya, Jawa Timur. Sejak jaman Majapahit nama Pekalongan sudah ada
di daerah tersebut dan orang-orang di tempat itu pun banyak yang pindah
ke lain tempat dan kemudian nama Pekalongan digunakan untuk nama
sebuah kecamatan di kota Netro Lampung.
Kata Pekalongan, asal kata pek dan along.
Kata pek artinya teratas, pak de (si wo), luru
(mencari, apek) sedang kata along yang artinya halong
dalam bahasa sehari-hari nelayan yang berarti dapat banyak. Kemudian
kata Pek-Along artinya mencari ikan di laut dapat hasil. Dari Pek
Halong kemudian menjadi A-PEK-HALONG-AN (Pekalongan). Okeh
masyarakat Pekalongan sendiri kata Pekalongan dikromokan
menjadi PENGANGSALAN (angsal = dapat). Kemudian dijadikan
lambang Kota Pekalongan yang telah ditetapkan oleh Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah Kota Besar Pekalongan tertanggal 29 Januari 1957 dan
diperkuat dengan Tambahan Lembaran Daerah Swatantra Tingkat 1 Jawa
Tengah tanggal 15 Desember 1958 seri B Nomer 11 kemudian disahkan oleh
Mentri Dalam Negeri dengan Keputusanya Nomer: Des./9/52/20 tanggal 4
Desember 1958 serta mendapatkan persetujuan Pengusaha Perang Daerah
Tertorium 4 dengan surat Keputusannya, Nomer : KPTSPPD/ 00351/11/1958
tanggal 18 November 1958.
Kata Pekalongan, asal kata pek dan kalong.
Kata kalong dalam bahasa Jawa dianggap berasal dari kata dasar
elong artinya mengurangi, dan dalam bentuk pasif kalong
yang berarti berkurang. Sementara kata pek atau amek,
seperti yang tercermin dalam ungkapan kata amek iwak
(menangkap ikan), diduga berkaitan dengan bahasa nelayan lokal. Adapun
kata kalong bisa berarti pula sejenis satwa kelelawar besar
yang secara simbolis diartikan sebagai kelompok rakyat kecil atau
golongan orang tertentu yang suka keluar (untuk bekerja) dari rumah
pada malam hari (nelayan).
Lambang Kota Praja Pekalongan tempo dulu yang disahkan
pemerintah Hindia Belanda dengan “Keputusan Pemerintah“ (Gouvernements
Besluit) Tahun 1931 Nomer 40 dan menurut keterangan Dirk Ruhl Jr
dalam nama ”Pekalongan” berasal dari perkataan “along”,
artinya banyak atau berlimpah-limpah, lancar, beruntung, berkaitan
dengan penangkapan ikan (hasil laut) dengan menggunakan pukat tarik.
Dengan demikian sesuai dengan motto yang tertulis dibawah perisai
lambang Kota Praja Pekalongan (jaman doeloe) berarti : “pek” (pa)-along–an”
yakni tempat ditepi pantai untuk menangkap ikan dengan lancar dengan
menggunakan pukat tarik (jala).
Menurut Kyai Raden Masrur Hasan, keturunan Sunan
Sendang yaitu R. Nur Rochmad di Sendangduwur Kecamatan Paciran
Kabupaten Lamongan, Pekalongan berasal dari istilah para santri kalong
karena tidak bermukim di pesantren di bawah asuhan R. Joko Cilik yang
akhirnya juga disebut sebagai mbah Mesjid
Dari asal kerajaan bernama “Pou-Kia-Loung”
kemudian menjadi kata Pekalongan dan menurut naskah kuno Sunda dari
akhir abad ke 16, koleksi perpustakaan “Bodlain” di Inggris. Di dalam
naskah tersebut menceritakakan perjalanan “Bujangga Manik” orang pertama
terpelajar dari Sunda, mengunjungi beberapa daerah di Pulau Jawa,
diantaranya beberapa tempat di kawasan Brebes, Pemalang, Batang, dan
Pekalongan. Kendati tidak singgah di Pekalongan namun dalam penuturan
perjalanannya di empat daerah ini Sang Bujangga tidak lupa menyebut nama
Pekalongan. Penyebutan nama Pekalongan dalam naskah Bujangga Manik
tersebut dapat dipandang penyebutan nama Pekalongan paling tua dalam
naskah pribumi.
Nama Kota Pekalongan ternyata juga disebut dalam
sumber sejarah kuno asal Tiongkok pada dinasti Ming. Sumber ini
menuturkan bahwa pada tahun ke tujuh masa pemerintahan “Kaisar-
Siouenteh” (tahun masehi 1433) orang Jawa telah datang mempersembahkan
upeti dan memberikan sebuah keterangan pertama jaman “Youen-Khang dari
masa pemerintahan Kaisar Siouen-ti” dari dinasti Han. Di negeri mereka
terapat tiga jenis penduduk. Pertama, orang-orang Tionghoa, bertempat
tinggal untuk sementara waktu, pakaian dan makanan mereka bersih dan
sehat. Kedua, para pedagang dari negeri-negeri lain yang telah lama
menetap, mereka ini juga sopan santun dan bersih. Ketiga, adalah
penduduk pribumi, yang yang dituturkan sangat kotor dan makan ular,
semut dan serangga, perwujutannya gelap kehitam-hitaman. Satu hal yang
aneh adalah karena mereka berpandangan sebagai kera dan berjalan dengan
kaki telanjang. Jika ayah atau ibu mereka meninggal, mereka dibawa ke
hutan belantara dan kemudian dibakar. Salah satu kerajaan mereka
dinamakan “Pou-Kia-Loung”. Disamping itu ada orang yang
menyebutnya Hie Kiang atau Choun-Ta. Menurut “Prof. D.G. Schlerel” dalam
bukunya berjudul “Iets Omt ent De Betrikkinoen Der Chinezen Met
Java, voornDe Komst Der Europennen Aldo“ termuat dalam majalah Tijdsct-ift
voor Indische Taal Land-En Volkenkumdell, jilid XX Tahun 1873,
yang dimaksud kerajaan “Pou-Kia-Loung“ dalam sumber sejarah
dinasti “Ming” tersebut adalah Pekalongan.
Tetapi masih ada beberapa versi lain tentang terciptanya nama
kota Pekalongan, yaitu sebagai berikut:
LEGOK KALONG
Dalam lakon Ketoprak yang pernah dipagelarkan di
Pekalongan oleh Siswo Budoyo, lakonnya diambil dari hasil karya
R.Soedibyo Soerjohadilogo, diantaranya mengisahkan peristiwa
keberhasilan Joko Bau putra Kyai Cempaluk memenggal kepala JP Coon
(VOC). Kepala tersebut dibawanya pulang untuk disowankan kepada
Sultan Agung dan dalam perjalanan direbut oleh Mandurarejo. Karena
tidak mempunyai cukup bukti maka Joko Bau bertapa kembali di daerah
selatan Pekalongan. Dari kata Legok Kalong inilah kemudian
timbul nama Pekalongan di desa “Legok Kalong” dari nama desa itu
kemudian menjadi Pekalongan.
KALINGGA
Konon sebagian masyarakat Pekalongan beranggapan bahwa
letak Kerajaan Kalingga adalah di desa Linggoasri, Kecamatan Kajen,
Kabupaten Pekalongan. Dari Kalingga inilah kemudian dihubungkan dengan
kata Kaling, Keling, Kalang dan akhirnya menjadi Kalong.
Akhirnya dari kata Kalong tersebut kemudian timbulah nama
Pekalongan, karena Kerajaan Kalingga itu dikenal pada abad VI-VII, maka
timbulnya nama Pekalongan menurut versi ini seputar abad VI dan VII.
Kalong ( Kelelawar)
Pekalongan berasal dari kata Kalong (Kelelawar),
karena di Pekalongan dulunya banyak binatang kelelawar/kalong, terutama
di Kesesi tempat kelahiran Joko Bau putra Kyai Cempaluk. Dalam versi
yang sama tetapi berbeda tempat, dikisahkan bahwa di sepanjang kali
Pekalongan (Kergon), di tempat tersebut dulunya ada pohon slumpring dan
banyak kelelawarnya begitu juga di Kelurahan Kandang Panjang,
Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan terdapat banyak pohon randu
gembyang dan banyak dihuni kelelawarnya dan dijadikan pedoman bahwa
daerah yang banyak dihuni kelelawar adalah daerah pantai. Dari
banyaknya kelelawar (kalong) tersebut kemudian berubah menjadi
nama Pekalongan. Nama pekalongan tersebut dikenal seputar abad ke XVII
(jamannya Bau Rekso).
KALANG
Asal kata Pekalongan berasal dari kalingga dan berubah
menjadi kata keling kemudian berubah lagi menjadi kalang.
Kata kalang tersebut ada beberapa pengertian yaitu hilir
mudik, nama sejenis ijan laut Cakalang, gelanggang, sekelompok, atau
diasingkan ke/di selong. Didalam salah satu cerita rakyat daerah
Pekalongan ada hutan/semaksemak yang banyak setan/siluman dan tempat
tersebut sangat ditakuti oleh siapapun, kemudian tempat
tersebut dipergunakan untuk pembuangan sebagai hukuman bagi orang–orang
yang membangkang atau membahayakan pada kerajaan Mataram. Dari kata kalang
tersebut kemudian menjadi Pekalongan.
Dari berbagai macam asal usul nama kota ini terbukti bahwa Kota
Pekalongan telah lama berdiri sehingga tidak ada keraguan lagi untuk
mengenalnya lebih dalam. Sejalan dengan rebrandingnya sebagai The
World’s City of Batik maka Kota Pekalongan siap
menyambut kedatangan Anda untuk menikmati “atmosfir” batik di kota ini.
http://sejarah.kompasiana.com/2011/04/04/asal-usul-nama-kota-pekalongan/
Langganan:
Postingan (Atom)
